Ketika sedang mengantri di suatu kedai kopi, apakah kamu pernah terpikir, berapa banyak gelas plastik yang terproduksi selama 5 menit? Beberapa hari yang lalu aku pernah mengamati hal tersebut dan hanya dengan 5 menit, total ada 21 gelas plastik yang terpakai. Wahh banyak ya, Bayangkan jika kedai kopi buka selama 10 jam setiap harinya, pastinya ada ratusan gelas plastik yang terpakai bukan? Padahal gelas tersebut mungkin hanya terpakai sekitar 10 menit lalu terbuang, namun terurainya butuh waktu yang sangat lama yaitu 450 tahun. Setiap harinya volume sampah akan semakin meningkat dan banyak yang tidak terkelola dengan baik, Indonesia diestimasi menyumbang lebih dari 64 juta ton sampah setiap tahunnya. Asal sampah tersebut pun beragam, yaitu 48% dari rumah tangga, 4% dari pasar tradisional, 9% dari kawasan komersial dan sisanya dari fasilitas publik. Dari banyaknya sampah tersebut, 69% berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir), 24% dibuang tanpa ijin dan hanya 7% yang berhasil didaur ulang. Hal tersebut menjadi masalah lingkungan serius yang dapat menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja. Bahkan sudah ada cukup banyak TPA di Indonesia yang over kapasitas. Seperti TPA Sumur Batu Bantargebang, TPA Cipayung Depok, TPA Sukawintan Palembang, dan TPA-TPA di kota besar lainnya. Sampah organik yang bercampur dengan sampah anorganik pada akhirnya tidak bisa terurai sebagaimana mestinya dan diperparah dengan timbunan yang menghambat sirkulasi oksigen. Pada akhirnya membuat gas metana terperangkap dan berpotensi meledak kapan saja.
Selain
berdampak pada lingkungan, sampah plastik juga memberi dampak buruk bagi
kesehatan. Apakah kamu sadar bahwa selama ini sering “memakan” plastik?
Terdengar aneh bukan? mengingat plastik bukan salah satu makanan, sulit dicerna
dan rasanya pun pasti tidak enak. Tapi faktanya kita selama ini memang telah
makan plastik! Para peneliti di Universitas Kedokteran Wina dan Badan
Lingkungan Hidup Austria salah satu yang menemukan bahwa manusia saat ini telah
mengonsumsi plastik. Mereka secara konsisten menemukan partikel polypropylene
(PP) dan polythene-terephthalate (PET) dalam sampel tinja manusia.
Partikel-partikel mikroplastik tersebut bisa dengan mudah masuk ke dalam tubuh
manusia melalui:
- Mikroplastik
bisa dengan mudah dianggap oleh ikan sebagai makanannya dan selanjutnya
kita konsumsi
- Kontaminasi
mikroplastik bahkan bisa lebih tinggi pada hewan sejenis kerang dan tiram
- Partikel
mikroplastik juga bisa mudah masuk melalui garam laut, apalagi jika jumlah
limbah plastik banyak dibuang ke laut. Bahkan ketika diteliti, mencapai
angka 600 partikel mikroplastik per kilogramnya!
- Minum
melalui botol kemasan sekali pakai juga menjadi jalan hingga 44 partikel
mikroplastik per liter-nya
- Debu
yang kemudian menempel di makanan yang kita simpan juga bisa mengantarkan
hingga 70 ribu partikel mikroplastik!
- Kemasan
makanan berbahan plastik juga bisa menjadi salah satu media
Hal ini
bisa jadi lebih buruk ketika kita sering mengkonsumsi makanan atau minuman
panas yang dikemas atau menggunakan wadah plastik. Karena itu akan melepaskan
racun yang pada akhirnya langsung terserap oleh tubuh. Melalui beragam penelitian telah ditemukan bahwa plastik
yang masuk atau terserap oleh tubuh kita, bisa menimbulkan dampak negatif
berikut ini:
- Makanan atau
minuman panas dalam wadah plastik bisa menyebabkan pelepasan bahan kimia
berbahaya Bisphenol A yang bisa mengganggu hormon tubuh dan memicu sel
kanker payudara. Hal itu yang dianggap peneliti membuat saat ini lebih
banyak ditemukan penderita kanker payudara di bawah usia 40 tahun.
- Mikroplastik
yang mengganggu hormon tersebut, menurut penelitian dalam International
Journal of Environmental Research dan Public Health, bisa menyebabkan
masalah lanjutan seperti penyakit Jantung.
- Bahkan
beberapa penelitian dalam Jurnal Fertility and Sterility (2016) juga
menghubungkan antara gangguan hormon tersebut dengan tingkat kesuburan
pria atau wanita.
- Selain
masalah pada jantung, gangguan hormon tersebut juga bisa memicu obesitas.
Terutama jika mengganggu hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, yang
pada akhirnya mendorong tubuh untuk menyimpan lebih banyak kalori dan
meningkatkan jumlah sel lemak.
Akan tetapi, sebagian orang masih enggan membawa wadah sendiri karena ukurannya yang besar dan banyak memakan tempat di tas. Hal ini tidak akan menjadi alasan lagi dan sudah saatnya kita membuka mata serta mulai mengambil tindakan untuk menyelamatkan kesehatan bumi dan kesehatan diri kita. Lakukan langkah awal bersama Sustaination, beralih ke produk-produk yang memiliki masa pakai lebih lama, menolak penggunaan produk sekali pakai, dan belajar bahwa hal-hal ini merupakan tanggung jawab bersama. Berbagai Reusable Product seperti wadah makanan, foldable cup, tumbler, snack bag, hingga shopping bag yang ada di Sustaination terbuat dari bahan eco-friendly, food grade, aman untuk anak-anak, desainnya yang compact, mudah dilipat, dan travel friendly, serta Sustaination ini merupakan produk lokal. Jadi tunggu apalagi? Mulailah terapkan Zero Waste Living dengan beralih ke Sustaination.

Komentar
Posting Komentar